Saat umat Muslim di seluruh dunia merayakan Iduladha dengan semangat pengorbanan dan kepedulian, alam Raja Ampat justru menghadapi kenyataan pahit. Pemerintah memang menghentikan sementara aktivitas tambang nikel di kawasan tersebut, namun tekanan publik dan pengamat lingkungan mendorong agar penghentian itu bersifat permanen.
Masyarakat adat dan pecinta lingkungan menyuarakan penolakan keras terhadap keberadaan tambang nikel di salah satu wilayah paling indah dan kaya keanekaragaman hayati di dunia. Mereka mengingatkan bahwa tambang bukan hanya merusak tanah dan laut, tetapi juga mengancam sumber penghidupan dan kearifan lokal yang telah dijaga turun-temurun.
Di balik layar, oligarki tambang terus mendorong kepentingan ekonomi yang mengabaikan dampak ekologis jangka panjang. Mereka menggunakan pengaruh politik dan kekuatan modal untuk membuka jalan eksploitasi, meski masyarakat sekitar menolak. Aktivitas tambang yang sempat berjalan telah meninggalkan luka pada lanskap Raja Ampat, dan jika dibiarkan, kerusakan itu akan sulit dipulihkan.
Iduladha sejatinya mengajarkan nilai pengorbanan demi kebaikan bersama. Namun ironisnya, dalam konteks Raja Ampat, justru alam medusa 88 dan rakyat yang dikorbankan demi keuntungan segelintir elite. Pemerintah seharusnya berpihak pada kelestarian lingkungan dan masa depan generasi mendatang, bukan tunduk pada tekanan pemilik modal.
Kini saatnya publik bersuara lebih keras. Kita perlu menuntut transparansi, akuntabilitas, dan keberanian pemerintah untuk mencabut izin tambang secara permanen. Jangan biarkan Raja Ampat menjadi tumbal di hari yang seharusnya penuh makna tentang kepedulian, pengorbanan, dan perlindungan terhadap yang lemah.
